Garis pengolahan ikan hasil laut adalah sistem terpadu dengan pengendalian suhu yang dirancang untuk menangani tantangan khusus hasil laut—kandungan air tinggi (70%-85%), struktur otot yang lembut, dan kerentanan terhadap pembusukan mikroba—mulai dari penerimaan bahan baku hingga pengemasan produk akhir. Garis ini berbeda dengan garis pengolahan ikan pada umumnya karena fokus pada penanganan spesifik spesies (misalnya, salmon, tuna, udang, cumi) serta kepatuhan terhadap regulasi hasil laut ketat: Peraturan UE No 1379/2013, HACCP Seafood FDA, dan standar Global Seafood Alliance (GSA). Garis tersebut dimulai dengan tahap penerimaan: hasil laut segar diturunkan ke dalam air dingin (0℃-4℃) atau tumpukan es untuk menjaga rantai dingin, mencegah pertumbuhan bakteri (misalnya, Vibrio spp.). Inspektur kualitas melakukan pemeriksaan sensorik (kejernihan mata, warna insang, kekenyalan) dan uji mikroba cepat untuk menolak stok yang rusak. Pra-pengolahan mencakup pencucian bertekanan tinggi (menggunakan air bersih yang dingin untuk menghilangkan lendir dan air laut), sortasi otomatis (sensor optik memisahkan berdasarkan ukuran/spesies), serta pembersihan spesifik spesies: udang dikupas dan dibuang urat hitamnya menggunakan roller mekanis, salmon menjalani proses pembuangan duri halus (sistem berpanduan laser menghilangkan tulang kecil), dan cumi dibersihkan dengan pisau presisi. Pengolahan utama bervariasi sesuai produk: fillet segar dipotong-potong (pemotong jet air untuk irisan seragam) dan dikemas dalam kemasan atmosfer termodifikasi (MAP) dengan komposisi 60% CO₂, 30% N₂, 10% O₂ agar daya simpan mencapai 7-14 hari; produk beku menggunakan IQF (Individual Quick Freezing) pada suhu -40℃ hingga -50℃ selama 10-30 menit (menghindari kerusakan kristal es); produk bernilai tambah (ikan berlapis tepung roti, cumi bumbu marinasi) melewati mesin pelapis (adhesi tepung roti) dan mesin pengaduk bumbu (infus rasa) sebelum dimasak. Seluruh permukaan yang bersentuhan terbuat dari baja tahan karat 316L (tahan korosi garam), dengan lasan halus tanpa sudut mati untuk memudahkan sanitasi. Logger suhu memantau setiap tahap agar tidak memasuki "zona bahaya" 4℃-60℃, dan sistem pelacakan berbasis blockchain mencatat riwayat dari tambak/kapal hingga ritel, memenuhi persyaratan impor (misalnya, Sertifikat Tangkapan UE). Bagi pengolah, garis ini meningkatkan rendemen (65%-75% untuk fillet dibanding 50% secara manual), mengurangi biaya tenaga kerja (menggantikan 8-12 pekerja), serta membuka akses ke pasar premium (misalnya, tuna grade sushi untuk Jepang, salmon organik untuk Eropa) dengan memastikan kualitas dan keamanan yang konsisten.
Hak Cipta © 2025 oleh Shandong Kangbeite Food Packaging Machine Co., Ltd. Kebijakan Privasi